Langkah Cepat Pemasangan Chattra Borobudur, Ditjen Bimas Buddha Gelar FGD Tahap Tiga Bersama Pakar

WARTAKOTALIVE.COM, JAKARTA – Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Buddha (Ditjen Bimas Buddha) bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengadakan Focus Group Discussion (FGD) tahap tiga dengan menghadirkan para pakar dari berbagai pusat riset dengan tujuan untuk menyamakan persepsi dan menyusun rencana jadwal kajian dampak di lapangan.

Adapun pelaksanaan FGD tersebut sebagai bentuk tahapan yang harus dilalui untuk mewujudkan hasil ratas (rapat terbatas) tingkat pimpinan dan keputusan rakornas (rapat koordinasi nasional) percepatan pembangunan lima Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) khususnya yang berkaitan dengan pemasangan chattra di Candi Borobudur.

Dirjen Bimas Buddha, Supriyadi mengatakan, bahwa pihaknya akan lanjutkan tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk mewujudkan hasil ratas tingkat pimpinan dan keputusan rakornas percepatan pembangunan lima DPSP khususnya yang berkaitan dengan pemasangan chattra di Candi Borobudur.

Supriyadi berharap, kita perlu bergerak lebih cepat sehingga setiap arahan yang diberikan dapat kita selesaikan dengan sebaik-baiknya.

“Semoga kegiatan ini akan berdampak luas bagi kemajuan masyarakat Indonesia dan juga dunia,” ungkap Dirjen pada kegiatan FGD, Jumat (8/3/2024).

Di sisi lain, Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Mego Pinandito menyampaikan bahwa Candi Borobudur menjadi tujuan utama dari umat Buddha untuk beribadah. 

“Kalau berbicara Borobudur tujuan kita yang tebesar umat Buddha karena letaknya di Indonesia, sehingga semua umat Buddha sepertinya ingin sekali selalu berkunjung ke Borobudur,” ujar Mego Pinandito.

Mego Pinandito menambahkan, kalau kita mengangkat Borobudur sebagai salah satu, Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) maka banyak hal yang perlu dan harus terus dikembangkan. 

“Bagaimana dari sisi religinya, bagaimana kesiapannya untuk menerima wisatawan, baik itu domestik maupun wisatawan di Indonesia, karena Borobudur sebagai satu peninggalan sejarah dan statusnya menjadi status warisan dunia UNESCO,” jelasnya.

Baca Juga  Green Building, Konsep Bangunan Ramah Lingkungan Sudah Ada di Buku Arsitek Ternama Sejak Tahun 1969

Terkait pemasangan chattra pada stupa utama Candi Borobudur Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut isu strategis yang spesifik untuk pemasangan Chattra Candi Borobudur karena sebelumnya sudah ada, sebetulnya ada pembahasan mengenai Heritage Impact Assessment HAI) yang sudah diselesaikan meskipun masih terus berlanjut dan ini tidak bisa lepas dari dukungan Tim dari Dirjen Kebudayaan di Kemendikbud Ristek, Kemenko PMK, Kemenko Marves, Kemenag, Kemenparekraf, PUPR, dan BRIN.

Mego Pinandito menambahkan, bentuk dukungan pemasangan chatrra dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yakni kajian kebijakan untuk mendukung legalitas pemasangan Chattra.

“BRIN bersama Ditjen Bimas Buddha Kemenag RI melakukan kajian Dampak Pemasangan Chattra yaitu memfasilitasi permintaan pemasangan chattra, penyediaan tenaga ahli atau pakar terkait rencana pemasangan Chattra di Borobudur,” sebut Mego.

Sementara, perwakilan dari Direktorat Jenderal Kebudayaan, Anton Wibisono, mengatakan bicara soal borobudur maka kita juga perlu mempertimbangkan mengenai autentisitas seperti yang tertuang dålam Nara Document on Authenticity, yaitu form and design.

Ada beberapa perkuatan dan penyesuaian yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia untuk melindungi struktur Candi Borobudur.



Quoted From Many Source

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *